29 April 2026 - 16:37
Pengakuan Rezim Zionis atas Kekalahan Menghadapi Drone Hizbullah

Sumber-sumber militer dan media Israel mengumumkan bahwa drone-drone bunuh diri Hizbullah telah berubah menjadi ancaman serius bagi pasukan Israel di Lebanon Selatan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di lapangan di Lebanon Selatan, kekhawatiran di dalam lembaga militer Israel terhadap meningkatnya penggunaan drone bunuh diri oleh Hizbullah terus bertambah. Drone-drone ini secara bertahap berubah menjadi faktor penentu dalam pengelolaan konflik; bukan hanya pada level dukungan tembakan, tetapi juga sebagai alat tekanan operasional dan psikologis terhadap pasukan penyusup.

Berdasarkan laporan surat kabar al-Akhbar Lebanon, sumber-sumber militer Israel mengakui bahwa mereka tidak memiliki kesiapan yang memadai menghadapi ancaman ini. Situs i24NEWS mengutip seorang sumber keamanan tingkat tinggi yang mengatakan bahwa drone-drone peledak telah menciptakan kejutan besar di medan perang, dan “kami tidak cukup siap menghadapinya”. Militer Israel baru memulai pelatihan terbatas setelah operasi berlangsung.

Pengakuan ini sejalan dengan laporan jaringan Ibrani Kan. Dalam laporan itu, sumber-sumber keamanan menyatakan bahwa ancaman ini sebenarnya telah diketahui sejak empat tahun lalu, tetapi persiapan untuk menghadapinya tidak lengkap, dan kini mereka harus membayar harganya.

Kinerja Drone di Medan Tempur

Di medan perang, kinerja drone-drone ini memperlihatkan dimensi tantangan yang dihadapi Israel. Itai Blumental, koresponden urusan militer jaringan Kan, mengatakan bahwa Hizbullah telah membawa drone bunuh diri FPV ke garis depan. Drone-drone ini memiliki akurasi tinggi dan kemampuan bermanuver di medan yang kompleks, sehingga menjadi senjata efektif terhadap pasukan darat.

Radio militer Israel juga mengumumkan bahwa tingkat penggunaan drone-drone ini telah mencapai puluhan drone serang per pekan di berbagai front. Sebagian digunakan untuk menjatuhkan amunisi, dan sebagian lainnya digunakan sebagai amunisi bunuh diri secara langsung.

Langkah-langkah Tergesa-gesa Israel

Situasi ini memaksa militer Israel mengambil langkah-langkah lapangan secara tergesa-gesa. Menurut Doron Kadosh, sejumlah unit memasang jaring dan pelindung di atas posisi-posisi militer untuk menghadapi drone. Namun dalam banyak kasus, instruksi operasional hanya terbatas pada kewaspadaan dan penembakan ketika drone terlihat.

Terbatasnya sarana ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan komandan lapangan. Radio militer Israel mengutip seorang perwira yang mengatakan, “Tidak banyak yang bisa kami lakukan menghadapi ancaman ini.”

Drone Menjadi Kekhawatiran Utama Komando

Di tingkat komando tinggi, persoalan ini kini mendapat tempat penting dalam pembahasan militer. Radio militer Israel mengumumkan bahwa ancaman drone menjadi poros utama pertemuan-pertemuan komando di pangkalan Ramat David. Komandan Brigade Artileri 282 menggambarkannya sebagai tantangan operasional besar yang menuntut penataan ulang sepenuhnya terhadap cara-cara penanggulangan.

Dalam kerangka yang sama, i24NEWS mengungkap bahwa Direktorat Intelijen Militer Israel, Aman, telah memulai kampanye untuk menargetkan rantai pasok drone Hizbullah, termasuk para pemasok, operator, dan peralatannya, dengan tujuan menahan ancaman ini dari akarnya, terutama di tengah peringatan tentang meningkatnya penggunaan senjata tersebut oleh Hizbullah.

Pengakuan Media Ibrani atas Kegagalan

Media-media Ibrani juga mencerminkan dimensi kegagalan ini. Surat kabar Maariv menulis bahwa Israel, meskipun memiliki sistem-sistem canggih seperti rudal Arrow dan jet tempur F-35, gagal menghadapi drone-drone murah di Lebanon Selatan. Situasi ini, menurut surat kabar tersebut, membawa Israel kembali ke hari-hari sebelum 7 Oktober.

Upaya Politik untuk Membenarkan Operasi

Di tingkat politik, para pejabat Israel berusaha membenarkan operasi militer dalam kerangka melemahkan kemampuan Hizbullah. Gideon Sa’ar, Menteri Luar Negeri Israel, sebagaimana dikutip jaringan Kan, mengatakan bahwa keberadaan militer Israel di Lebanon bergantung pada penghancuran infrastruktur Hizbullah. Jika ancaman itu hilang, tidak ada kebutuhan untuk tetap berada di sana.

Berlanjutnya Serangan Hizbullah

Di lapangan, persamaan ini terus berlanjut dengan meningkatnya penggunaan drone bunuh diri oleh Hizbullah sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata. Hizbullah pada Selasa kemarin mengumumkan bahwa mereka telah melaksanakan serangkaian operasi drone terhadap buldoser militer Israel di Bint Jbeil, konsentrasi pasukan Israel di al-Qantara, sebuah tank Merkava, serta serangan drone berkelompok terhadap sebuah posisi di kota kecil al-Taybeh. Seluruh operasi tersebut disebut mengenai sasaran secara langsung.

Your Comment

You are replying to: .
captcha